" mu dan MU"
Sudut bibirku banyak tersimpan simpangan warna rasa....
Putihku masih tergelar lebar memipih...
Berisi kelabu yg menggigil parau...
Bersebelah dengan hijauku yang selalu memukau..
Berdampingan dengan biru yang mengharu...
Bahkan bertumpuk jingga yang merenda rana...
Selimuti hitam yang membayang kelam
disekuas kisah alam berkanvas
Menunggu kering warna bernafas...
Dengan nafas berlafas Rohman dan Rokhim....
Agar senyumku jelas tergambar dalam ejaMU..
Tentang raga yg berlaga
pertahankan sehembus hirup...
Dalam kungkung kuasaMU.....
Bahwa sukmaku berada diujung genggamMU...
Bahwa tundukku adalah kepatuhanku padaMU...
Bahwa nikmatnya adalah indahku meski sesaat dariMU...
Semua tetap kusiratkan dalam polesan tafsir mayaku....
Diriku ada karenaMU...
Tiadaku pun kar' naMU...
Meski tak seorangpun tahu....
Jua dirimu ....
Yang sangat mencintaiku karenaNYA....
~Enry Sulistyorini~
PUISI......NAFAS~KOE....Oleh: Enry Sulistyorini,S.Pd
Kala Raga merapuh oleh lara
Rabu, 31 Desember 2014
RAGAKU ~ SEMESTAKU
Semestaku mulai mereda
riuh gemuruhnya terdengar lemah berdesir
meski lava masih muntahkan amarah merahnya
ditemani lelehan letih yang melahar
melafas nafas nafas cemas tuk pembatas
bendung kabung dengan sebiji tawakal dalam pasrah
sembari lontarkan doa bututku
agar tak padamkan sulut asa bernadiku
demi tetap memuja akbar Takbir untukMU...
nikmati setiap hikmah nikmah Tahmid dariMU....
atas agung sang Cipta yang selalu terTasbih padaMU...
Semestaku heningkan tenang
dari legam yang lama membentang
kini tersapu bening oleh sekejap mata tanpa duga
bahwa inginku KAU ketukkan palu di meja alamMU
agar nafasku taat dampingi sukmaku
...sukmakupun setia peluk ragaku...
dan...aku....setia temani nafas cintanya....
hingga vonis akhirmu pejamkan mataku bersamanya....
Namun.....
bimbangku masih lancang bertanya..akan semestaku...
Akankah "kartu sukmaku" masih dimainkan tanpa jeda
ataukah ini firasat selesainya KAU mainkan "kartu sukmaku"
kala mega hitamku mengawan putih tanpa sangka.....
mmbawa nyata dan mayaku tanpa warta.....
~Enry Sulistyorini~
Semestaku mulai mereda
riuh gemuruhnya terdengar lemah berdesir
meski lava masih muntahkan amarah merahnya
ditemani lelehan letih yang melahar
melafas nafas nafas cemas tuk pembatas
bendung kabung dengan sebiji tawakal dalam pasrah
sembari lontarkan doa bututku
agar tak padamkan sulut asa bernadiku
demi tetap memuja akbar Takbir untukMU...
nikmati setiap hikmah nikmah Tahmid dariMU....
atas agung sang Cipta yang selalu terTasbih padaMU...
Semestaku heningkan tenang
dari legam yang lama membentang
kini tersapu bening oleh sekejap mata tanpa duga
bahwa inginku KAU ketukkan palu di meja alamMU
agar nafasku taat dampingi sukmaku
...sukmakupun setia peluk ragaku...
dan...aku....setia temani nafas cintanya....
hingga vonis akhirmu pejamkan mataku bersamanya....
Namun.....
bimbangku masih lancang bertanya..akan semestaku...
Akankah "kartu sukmaku" masih dimainkan tanpa jeda
ataukah ini firasat selesainya KAU mainkan "kartu sukmaku"
kala mega hitamku mengawan putih tanpa sangka.....
mmbawa nyata dan mayaku tanpa warta.....
~Enry Sulistyorini~
TEBUS TATAPMU
........... .............. ................
Ku tak kuasa menatapmu yang hanya menatapku
bisikkan banyak doa tuk tebus nafas usangku...
harap ajaib itu ada dalam fana
tanpa tumbal yang harus terjagal
Sang Khaliq.....
akankah pinta insan yang tak jera menabur dosa ini
terijabah oleh anggukMU
dalam sarat redup netraku
kupeluk erat detik yang kumiliki
tuk sisihkan rasa nikmat hebatku
atas waktu laksa safir bagiku kala ini
Semenjak bisumu kau gantikan swara netramu
Bibirkupun kelu tanpa sedu
Pandangmu banyak pintakan sejuta harap untukku
Tegarku berasal dari uap lelahmu
Sulut asaku terpantik dari kobar letihmu....
Kasihku....
Usapku tak sanggup tadahi linang tatapmu
yang terselip pinta tuk dapat lelap bersama
di lembah keabadian....
seperti noktah yang pernah terikrar
dalam balut syahadat dan cinta tawadu kita.....
~Enry Sulistyorini~
........... .............. ................
Ku tak kuasa menatapmu yang hanya menatapku
bisikkan banyak doa tuk tebus nafas usangku...
harap ajaib itu ada dalam fana
tanpa tumbal yang harus terjagal
Sang Khaliq.....
akankah pinta insan yang tak jera menabur dosa ini
terijabah oleh anggukMU
dalam sarat redup netraku
kupeluk erat detik yang kumiliki
tuk sisihkan rasa nikmat hebatku
atas waktu laksa safir bagiku kala ini
Semenjak bisumu kau gantikan swara netramu
Bibirkupun kelu tanpa sedu
Pandangmu banyak pintakan sejuta harap untukku
Tegarku berasal dari uap lelahmu
Sulut asaku terpantik dari kobar letihmu....
Kasihku....
Usapku tak sanggup tadahi linang tatapmu
yang terselip pinta tuk dapat lelap bersama
di lembah keabadian....
seperti noktah yang pernah terikrar
dalam balut syahadat dan cinta tawadu kita.....
~Enry Sulistyorini~
BAYANG AWANG
Pantul sinar datar mengambang
tak pijak palung yang lama mengubang
Kakikupun kian merambah awang....
berdiri limbung setengah pincang....
sembari gumamkan pinta usang
tentang langkah yang sudah diujung jurang
bertahan pada cinta yang terpegang
tak ingin sendiri melayang....
hidupku hanya menanti hentinya adzan brkumandang...
dalam lara yang masih setia magang
berdiam menunggu putusan sang Hyang.....
bahwa esok masih sisakan sinar terang.....
dari gurauan sekawanan gemintang
yang setia berdendang tanpa kendang...
meski kelam menghadang
Ku harus tetap tersenyum penuh hati telanjang
'tuk jelang biang segala biang...
.....menang dan tenang....
Agar kelak lelapku tak sesakit yang kubayang...
~Enry Sulistyorini~
Pantul sinar datar mengambang
tak pijak palung yang lama mengubang
Kakikupun kian merambah awang....
berdiri limbung setengah pincang....
sembari gumamkan pinta usang
tentang langkah yang sudah diujung jurang
bertahan pada cinta yang terpegang
tak ingin sendiri melayang....
hidupku hanya menanti hentinya adzan brkumandang...
dalam lara yang masih setia magang
berdiam menunggu putusan sang Hyang.....
bahwa esok masih sisakan sinar terang.....
dari gurauan sekawanan gemintang
yang setia berdendang tanpa kendang...
meski kelam menghadang
Ku harus tetap tersenyum penuh hati telanjang
'tuk jelang biang segala biang...
.....menang dan tenang....
Agar kelak lelapku tak sesakit yang kubayang...
~Enry Sulistyorini~
Langganan:
Postingan (Atom)